Ngutip Iklan…
“Coba lebaran setiap hari, ya? Pasti kita bisa terus makan enak…”
(Atau kurang lebih sepert itulah)
Betapa orang Indonesia sangat merindukan Lebaran, dari yang muda hingga yang tua, dari pengangguran hingga pejabat, bahkan mungkin baik muslim yang notabene yang punya hajat sampai non-muslim. Semua menantikan, semua merayakan. Saat itu dimanfaatkan baik untuk mudik, bersilaturahmi atau sekadar menikmati ketupat dan opor. Momen yang dinantikan itu biasanya hanya terjadi 2 hari dalam satu tahun. Tapi rupa-rupanya karena perbedaanlah yang membuat lebaran (Idul Fitri) di Indonesia tahun 1432 H ini jadi 3 hari (mengambil kesimpulan sepihak). Istimewa, bukan? Haha.
Ternyata kita memang tidak bisa lepas dari perbedaan. Dan sudah ga jaman lagi, Bung, terlalu membedakan aku Hijau dan kamu Biru. Atau jangan-jangan (tahun ini) kita hanya sedang diuji (lagi) tentang seberapa besar hati kita untuk menghargai dan menghormati perbedaan. Kebetulan ku percaya bahwa perbedaan adalah jalan menuju perdamaian yang hakiki (Jare mas Yoyo).
Selain itu, mari kita ambil sisi positifnya saja. Dengan lebaran yang harinya nambah itu, kita bisa memanfaatkannya dengan saling memaafkan dalam waktu yang lebih banyak, mengingat sulitnya kita saling memaafkan selain hari lebaran (Jare mas yanis). Tapi akan lebih indah kalau tidak hanya menunggu lebaran, menyempatkan bertemu keluarga setiap luang, makan ketupat dan opor setiap ada rejeki, dan tentunya saling memaafkan setiap saat.
Dan kenapa kita masih menunggu permohonan maaf untuk memaafkan?
Mari kita budayakan memaafkan tanpa perlu menunggu ucapan maaf.
Sepertinya dunia akan lebih indah.
“Coba lebaran setiap hari, ya? Pasti kita bisa terus makan enak…”
(Atau kurang lebih sepert itulah)
Betapa orang Indonesia sangat merindukan Lebaran, dari yang muda hingga yang tua, dari pengangguran hingga pejabat, bahkan mungkin baik muslim yang notabene yang punya hajat sampai non-muslim. Semua menantikan, semua merayakan. Saat itu dimanfaatkan baik untuk mudik, bersilaturahmi atau sekadar menikmati ketupat dan opor. Momen yang dinantikan itu biasanya hanya terjadi 2 hari dalam satu tahun. Tapi rupa-rupanya karena perbedaanlah yang membuat lebaran (Idul Fitri) di Indonesia tahun 1432 H ini jadi 3 hari (mengambil kesimpulan sepihak). Istimewa, bukan? Haha.
Ternyata kita memang tidak bisa lepas dari perbedaan. Dan sudah ga jaman lagi, Bung, terlalu membedakan aku Hijau dan kamu Biru. Atau jangan-jangan (tahun ini) kita hanya sedang diuji (lagi) tentang seberapa besar hati kita untuk menghargai dan menghormati perbedaan. Kebetulan ku percaya bahwa perbedaan adalah jalan menuju perdamaian yang hakiki (Jare mas Yoyo).
Selain itu, mari kita ambil sisi positifnya saja. Dengan lebaran yang harinya nambah itu, kita bisa memanfaatkannya dengan saling memaafkan dalam waktu yang lebih banyak, mengingat sulitnya kita saling memaafkan selain hari lebaran (Jare mas yanis). Tapi akan lebih indah kalau tidak hanya menunggu lebaran, menyempatkan bertemu keluarga setiap luang, makan ketupat dan opor setiap ada rejeki, dan tentunya saling memaafkan setiap saat.
Dan kenapa kita masih menunggu permohonan maaf untuk memaafkan?
Mari kita budayakan memaafkan tanpa perlu menunggu ucapan maaf.
Sepertinya dunia akan lebih indah.