Jumat, 25 Oktober 2013

Emak Pengen Naik Haji

Waaah.. Para haji udah pada pulang ya? hmm... biasanya kalo lagi musim kaya gini banyak oleh-oleh khas arab sono.. dari anak-cucu, tetangga, sampe yang ikut pengajian bareng pasti ngarepin. Sampe-sampe kaya bu Hajah yang tadi masuk berita, karena barang bawaan cuma dibatasi 30kg saja, akhirnya oleh-oleh tambahan beli di Tanah Abang (Gila!  Pokoknya di Indonesia itu serba ada deh). Mungkin para jamaah sebelum berangkat sampe mikir kalo beli oleh-oleh itu masuk dalam alokasi ONH (Ongkos Naik Haji) yang makin naik aja. Kalo dipikir-pikir, kalo ada orang yang pengen naik tapi cuma buat gengsi ama tetangga, pake aja ikhram ngilang selama 40 harian (terserah mau kemana), jangan lupa mampir ke Tanah Abang trus beli deh oleh2 disitu. Ho. Yah...semoga saja ga ada. Gila aja banyak banget orang yang bener-bener pengen ke Tanah Suci sebagai bentuk totalitas dalam kepercayaannya (Islam), tapi yang mampu buat kesana cuma buat gengsi atau cari title "H/Hj" doank.

Jadi inget film "Emak Pengen Naik Haji". Film lama dan udah ada cukup lama juga di laptop tapi baru ditonton (Bukan orang yang biasa nonton di bioskop. Hehe.). Gila (lagi) tu film, cuma tu film yang bisa bikin nangis berkali-kali, setelah "Kuch Kuch Hota Hai". Ahay. Adegan-adegannya mungkin biasa, cuma bulu kuduk langsung merinding dan air mata langsung ngucur aja. Karena mungkin jadi inget sama ibunda tercinta kali ya??? Betapa tidak, Ibuku yang satu itu (emang cuma satu) sering bilang pengen naik..lebih tepatnya menunaikan haji. Kaya Emak-nya bang Zen, kadang ngomong sambil lalu dan mengisyaratkan rasa keinginan yang dalem banget buat ke Tanah Suci. Dan aku sebagai anak yang mirip bang Zen (nggantenge juga. Aamiin.) cuma bisa nelen ludah dan sesek dadanya. Yah... boro-boro naik haji, mikiri anak yang kuliah ga lulus-lulus mungkin bisa jadi yang menghabat beliau menabung buat naik haji. :'(
Setidaknya itu adalah bukti bahwa kebutuhan untuk keluarga adalah yang utama dibandingkan keinginan pribadi. Dan setelah nonton film itu menambah tekadku untuk membantu orang tua buat berangkat, entah berapa tahun lagi uang terkumpul dan ditambah berapa tahun lagi untuk antrian berangkat, semoga saja masih sempat dan diberi kemudahan. Aamiin.

Oia, mungkin tidak semua orang akan menangis beberapa kali (mungkin aku aja yang berlebihan). Karena aku juga tahu, ada banyak orang yang punya latar belakang dan persepsi yang berbeda tentang haji. Salah satunya adalah karena figur seorang haji saat ini tidak selamanya baik. Ya ga jauh-jauh dari contoh di atas yang niat awalnya sudah karena urusan duniawi. Selain itu mungkin karena banyak juga yang sudah jadi haji kemudian merasa harus dimuliakan. Mungkin persepsi ini muncul karena jaman dulu orang-orang yang pulang haji langsung naik derajatnya, bahkan jika kalo tadinya hanya kalangan menengah bisa naik jabatan sekelas dengan bangsawan. Begitu dihormati hingga seluruh warga kampungnya langsung nyium tangan Haji/Hajah tersebut. Tapi kalo menurutku itu wajar banget, karena jaman dulu hanya orang dengan nawaitu lillahita'ala mau dan bisa berangkat. Setidaknya harus berlayar berbulan-bulan, menghadapi ancaman para kompeni, dan kerja paksa terlebih dahululah yang akan menggugurkan niat orang berhaji hanya untuk gengsi, title dan hal keduniawian yang lainnya. Tapi alhamdulillah saya percaya orang tua saya bukan tipe seperti itu, jadi semoga niat saya tidak akan pernah surut untuk membantu mereka. Mungkin aku akan sangat rela jika harus berlari dan menguucapkan "labaikallahummalabaik...labaikallahummalabaik...labaikallahummalabaik..." dan tertabrak mobil hingga kehilangan kemampuan melukis kaya bang Zen (emang aku bisa nglukis???) asal itu jadi jalan bisa memberangkatkan mereka, meskipun dengan cara itu aku yakin mereka pasti akan keberatan. Ho. Tapi semoga ada jalan yang lebih baik. Bismillah. Man jadda wa jadda.



Kamis, 17 Oktober 2013

Hidup ini begitu indah, bukan?

Jika saja perasaan bisa memilih mungkin dia bisa dipersalahkan. Maka aku menganggap bahwa keputusan untuk memilih atau tidaklah yang bisa jadi celah kesalahan. Dan jika pilihan itu berdasarkan perasaan tanpa ada tendensi akan hal yang bersifat materialis, pilihan itu tidaklah salah. Hanya saja parameter perasaan begitu absurd. Namanya juga hati, Sang Penguasa begitu mudah membolak-baliknya. Mau menyalahkan Dia? Haha. Keputusan-Nya adalah hal termutlak yang tak bisa dibandingkan dengan keputusan wasit pertandingan manapun. Belum lagi saat dua suara mencoba merayu ke jalan mereka masing-masing (ya,saya rasa dua suara saja lebih dari cukup). Dalam sinetron atau film sering digambarkan dengan malaikat putih yang mengajak pada pilihan yang baik dan biasanya mengorbankan diri sendiri dan si setan merah yang mengajak hal kurang baik yakni pada jalan yang cenderung egois. Andai saja dalam dunia nyata rayuan itu tampak bentuk visualnya, mungkin akan lebih mudah. Tinggal pilih putih atau merah, tidak ada warna pink dimana ego bisa jadi baik untuk diri atau pengorbanan bahkan memperburuk keadaan. Lagi-lagi sampai pada persimpangan antara baik-buruk dan benar-salah.

Bahkan Kopral Rivaille pun tidak tahu apa yang harus dilakukan Eren, hingga jatuh pada pilihan dimana semua temannya meninggal. Yah...setidaknya orang memang harus memilih untuk mengetahui hasil akhirnya. Mungkin berdoa atas hal yang kita pilih agar menjadi yang terbaik untuk semua adalah awalnya. Karena sebelum kematian, masa depan, dan jodoh, pilihan berdasarkan perasaan adalah salah satu rahasia-Nya.

"Rasanya seperti memukul tangan kita ke tembok sekuat mungkin... Aah... tidak..lebih tepatnya memalu paku di tembok sekuat tenaga dan meleset mengenai jari sendiri, tembok ada bekas paku dan jari memar..atau mungkin lebih dari itu semua...haah..ha. Sial! Kenapa hidup ini begitu indah?" 

Jumat, 20 September 2013

Spanduk Sepanjang Koridor

Bolak-balik melalui koridor jalan di salah satu rumah sakit, memaksa mata untuk membaca beberapa spanduk yang menghias di atasnya. Temanya pun tidak jauh hal-hal berbau RS, seperti hak pasien, kewajiban dokter, dan korupsi (lho!). Yang menarik perhatian adalah salah satu spanduk yang bertuliskan "Dengan edukasi pasien mendapatkan informasi dalam mengambil keputusan perawatannya". Dalam persepsi ku, betapa mulianya rumah sakit ini mengingatkan pentingnya pendidikan berkaitan dengan kesehatan. Secara kasar kesimpulannya adalah kalau ada orang-orang dengan latar belakang edukasi yang kurang maka bisa jadi tidak tepat dalam mengambil keputusan untuk perawatan mereka. Misalnya perawatan jadi tambah lama padahal tidak perlu berlama-lama, otomatis duit jadi nambah, (satu senyum lebar dari pihak yang diuntungkan). Selain itu bisa juga melakukan perawatan yang tidak perlu, misalnya seharusnya belum perlu operasi tapi akhirnya diputuskan untuk segera dioperasi,padahal selain memakan biaya yang lebih (tambah lagi senyum lebar) operasi adalah bener-bener jalan terakhir (*menurutku sih) karena akibatnya banyak, selain belum tentu penyakit bener-bener ilang malah bisa jadi tambah parah kalo operasinya salah, belum lagi kalo operasinya itu pengangkatan organ, resikonya bertambah pada terancamnya masa depan orang yang dioperasi bro...

"HAHA... SALAH SIAPA JADI ORANG GOBLOK DAN MAU DIGOBLOKIN" kata orang pinter.
Jari tengah buat yang bilang gitu. (*nulis dhewe emosi dhewe)

Plis... jangan takuti kami yang goblok ini dengan perawatan yang mahal dan beresiko sebelum banyak tes dan uji lab keluar...
Plis... jangan jadikan kami kelinci percobaan...
Plis... berikan kami info sejelas-jelasnya info, jangan setengah-setengah...
Plis... jangan kurangi obat kami hanya karena kami miskin....
Dan plis... jangan jadikan kami lahan bisnis...

Karena tidak semua mempunyai kemampuan dan kesempatan menjadi "orang pinter", maka kami yang "goblok" ini bukankah jadi tanggung jawab yang "pinter"? kenapa tak sedikit saja ilmumu kau tularkan? paling tidak berikan informasi agar kami yang "goblok" ini bisa ambil keputusan yang benar-benar tepat. Karena dalam tanggung jawab anda itu ada nyawa dan masa depan kami.


Rabu, 11 September 2013

Indonesia itu...

Indonesia adalah saat orang berpapasan entah saling kenal atau tidak
mereka saling menyapa atau sekadar menebar senyum keramahan

Indonesia adalah saat sebuah pertanyaan "kepo" terlontar dijawab tanpa ragu
bahkan dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan "kepo" berikutnya
hingga terjadi percakapan singkat yang mungkin tidak penting namun tampak hangat

Indonesia adalah saat orang buta di pinggir jalan hendak menyeberang
lalu datang orang yang mampu melihat dengan memegang tangan si buta
kemudian dibantu menuju sisi jalan yang hendak dituju

Indonesia adalah saat para lelaki bergotong-royong membersihkan selokan
menata kembali tempat mereka tinggal
dan yang perempuan menyiapkan perjamuan makan sederhana
kemudian dilanjutkan dengan makan bersama, lesehan, piring dari daung pisang, dan muluk

Indonesia adalah saat ada yang suka cita, bangga, berdiri bulu kuduknya, bergetar hatinya
saat mendengarkan lagu kebangsaan
mengingat betapa lama mereka dijajah dan belum juga merdeka

Jika Indonesia itu masih ada, dimanakah bisa kutemukan?

Rabu, 04 September 2013

Analogi #2 : Sajak Pendaki Gunung

Saat hendak naik gunung
Aku bawa bekal pengganjal lambung
Ada mi instan dan jajanan kampung
Tak lupa perlengkapan layaknya pendaki ulung 

Saat tiba di lerengnya
Aku melihat kota penuh pesona
Ada yang tampak gelap tertutup mega
Tapi ada juga yang cerah terkena surya

Lalu sampailah aku di puncak
Usahaku naik dibayar layak
Padang awan, langit, dan surya jadi pemangangan yang mutlak
Ah masa bodoh pada kota yang sudah tak lagi tampak

Dan aku pun kembali ke tempatku
Indahnya di sana sudah jadi kepuasanku
Redup atau cerah kini hanya terlihat di mana aku terpaku
Inilah kenyataan, yang tak suka cukup dengan tertawa pilu

Sabtu, 24 Agustus 2013

Badai Kesekian Kali

Mungkin kami yang terlalu bodoh untuk pergi berlayar hanya bermodalkan lentera kecil itu
Andai saja langit cukup terang
Mungkin bulan dan bintang bisa membantu kami menentukan arah

Kernyit kayu kapal ikut dalam kegaduhan
Ombak pun tak kunjung henti
Angin, bisakah sejenak kau berhenti menghembusnya?
Setidaknya ijinkan kami menghela nafas, meski sejenak...

Wahai badai, jika kau sudi berlalu...
Berlalulah sebelum lentera kami padam.

Jumat, 19 Juli 2013

Merdeka itu berbatas, begitupun dengan kebahagiaan...

Hak untuk bebas pun sejatinya berbatas. Berbatas dengan kebebasan orang lain.
Bagaimana dengan hal yang dinamakan "Kebahagiaan"?
Kalau saja setiap "Kebahagiaan" bisa membawa "Kebahagiaan" yang lain, mungkin "Kebahagiaan" tidak akan berbatas. Sayangnya tidak semua orang akan ikut berbahagia atas kebahagiaan seseorang, bahkan ada orang yang tidak suka, atau sakit saat melihat orang bahagia. Tidak masalah jika orang itu adalah orang yang tidak kita kenal atau seorang musuh. Tapi bagaimana jika orang yang tidak ikut berbahagia adalah orang yang kita sayang (dalam arti luas)?

"Kami adalah sepasang pendosa yang lama terikat pada kebahagiaan semu. Sekadar ingin mencari arti bahagia yang sesungguhnya. Lalu kenapa seakan beberapa orang merasa bahwa kami tidak berhak berbahagia? Haha..lucu rasanya. Ingat! kami adalah pendosa, bukan orang suci. Jika saja mata kami balas dengan mata, maka yang ada adalah rasa sakit. Maka kami memilih untuk membuat lingkaran dimana masing-masing kadar kebahagiaan sudah kami tentukan. Tak apa jika tak suka saat kami berbahagia, akan selalu kami balas dengan doa agar kalian bisa lebih bahagia dari kami."

Lalu kenapa kita tidak berbahagia bersama saja?