Minggu, 25 Desember 2011

Polisi NRKA


Maaf sodara-sodara pengikut setia blog. Baru nongol lg setelah melanglang buana. Dan alhmdulilah dapet cerita yang bisa gue tulis di sini. 
Jadi begini ceritanya... (Dengan ekspresi sok mikir liat ke atas, ala Kisah-kisah Misteri yang d TPI jaman dulu kala)
Pada suatu ketika gue nganter sodara gue yang berada di Negara Ancur Kagak Ancur atau biasa dikenal NERAKA atau NRKA (Kalo dipikir-pikir negara tersebut sangat mirip dengan negara tempat gue tinggal, Indonesia atau NKRI, dari iklimnya yang tropis dan budaya-budaya yang ada di masyarakatnya) untuk buat Kartu Izin Mengendara (KIM). Betapa niat yang sangat baik mengingat dia sering bepergian naik motor, maka dia yang ga pengen terus menerus melanggar peraturan mencoba membuat KIM tersebut. Dia yang sedang kuliah di kota Asem Arang harus menempuh perjalanan sekitar 4 jam ke kota Mrembes. Maklumlah, karena untuk buat KIM tersebut harus di kota tempat dia berasal. Sesampainya di Mrembes, gue langsung belok ke Satjantas (Satuan Jalan Pintas), bagi yang ga tau di Indonesia disebut Satlantas (mirip bukan???). khu khu khu.

Kamis, 24 November 2011

Analogi #1


Barang kali seperti rokok, alkohol, narkoba, atau barang-barang yang mengandung zat adiktif lainnya, sepertinya situs jejaring sosial juga bisa mengakibatkan kecanduan. Misalnya nih, gue (nyoba pake bahasa gue-elo) sering liat tangan orang gatel-gatel kalo ga nge-twit, ada juga yang  bolak-balik liatin tv-laptop-makan-laptop-eek-laptop (kaya orang diare) cuma buat liat perkembangan notifikasinya di eFBe, atau yang lebih sering lagi liat orang berjam-jam ngadepin leptop sampe matanya merah semua, setelah gue liat juga ga jauh2 dari 2 situs tersebut, dan diantara hal-hal yang paling mengenaskan adalah kalo udah liat orang dengan mata berbinar-binar meminta belas kasihan pinjem laptop atau gantian online juga Cuma buat buka eFBe. Hmmm. Kalo udah kayak gitu gue langsung bayangin kaya orang yang lagi sakau aja, badannya menggigil, trus bilang “Bodoh....badan gue sakit semua...Bodoh..bukain pintunya... GUE BUTUH EFBE, BODOH...” (Ala di film Radit and Jani). Hoho. 

Selasa, 22 November 2011

Perokok dan Pasangannya

Kali ini tentang Perokok dan Pasangannya (Rokok tentunya).
Saya tidak pernah menyangka akan menjadi perokok aktif seperti saat ini. Karena dulu selalu mengkritik ayahanda yang notabene perokok juga. Karena boroslah, ga baik untuk kesehatan lah, dll. Tapi apa yang terjadi sekarang???hmmm....
Ketagihan???mungkin. Tapi bagiku zat adiktif dalam rokok hanya bagian kecil yang mempengaruhi untuk menjadi seorang perokok (aktif tentunya). Yang lain adalah karena manfaat yang bisa didapat dari merokok itu. Hahaha...Manfaat???Guyon mesti mas’e. Hoho, jangan salah mas bro/mba bro (Lho), makanya mari kita kaji berama tentang filosofi Perokok dan Pasangannya.
Tapi sebelumnya yang menjadi catatan penting adalah ini bukan sekadar justifikasi atas apa yang sudah saya perbuat saja, karena ketika menjadi perokok (pasif), saya sudah mengagumi kehebatan para perokok (aktif). Penting juga untuk pengetahuan (baca:pengakuan dosa) bahwa perlakuan “cerewet” kepada ayahanda sebelumnya itu hanya perlakuan khusus, ya paling ga mengharapkan uang sekolah bisa nambah kalau ayah berhenti merokok. Karena analoginya uang untuk rokok bisa jadi uang saku. Haha. Mohon maklum, jaman masih sekolah.

Kenapa bisa jadi perokok?

Sepasang Kekasih Bernama Tembakau dan Arabika


     Sepasang kekasih bernama Tembakau dan Arabika. Keduanya tampak begitu serasi ketika bersandingan. Di malam hari mereka terbiasa berada diantara sekelompok manusia. Rasanya dengan kletikan, canda tawa, petikan gitar, dan barangkali ditambah dengan tetabuhan dari galon kosong pun, tidak akan sempurna tanpa hadirnya sepasang kekasih itu. Hebatnya mereka akan rela saja jika digilir untuk memuaskan manusia-manusia yang menghabiskan malam itu. Maklum saja mungkin stok mulai menipis. Haha.
         Saat pagi mereka begitu mesra berada di atas sebuah meja. Berada ditempatnya masing-masing tak menghalangi percumbuaan antar keduanya. Berselingan masuk ke dalam mulut penikmatnya, yang barang kali masih tercium aroma tidak sedap dari pembusukan sisa makanan semalam.  Udara segar rasanya menambah indahnya suasana penikmat mereka. Meskipun kabarnya tak cocok. Hah, siapa peduli. Bagi sebagian orang itu surga dunia. Khu.
         Lalu pasangan mana yang bisa mengunggulinya? Karena nyatanya, Arabika lebih dari mampu untuk sekadar menjadi teman lembur/melek , dan Tembakau menjadi teman yang begitu setia saat sebagian orang terpuruk, meskipun hanya pelarian. Uhuk uhuk. Hmm...

Senin, 21 November 2011

Janjian

Kemarin Q bertemu
Seperti biasa Dia diam

Seharusnya Q malu
Lama Q tak menemui Kau
Berkali-kali Q ingkari janji dengan Mu
Hanya disaat seperti ini Q mengingat
Dan kini Q datang menemuimu dan meminta
Manusia tak tau diri macam apa Q ini

Q basuh muka
Berdandan rapi
Menyisir rambut
Dengan menebalkan muka datang ke rumah-Mu
Berharap masih diterima

Menuju lantai tertinggi
Lebih dekat denganMu
Meski Q tau bahkan orang di dasar bumi pun Kau mendengarnya
Q juga ingin didengar

Seakan Q naik ke ranjang-Mu
Dan Kau peluk mesra dengan sentuhan kasih sayang
Lalu terbuai dalam kenikmatan bercinta dengan-Mu
Dan lagi-lagi Q mengucapkan janji yang Q tak tau pasti apa Q bisa menepatinya
“Gila kau, perjanjian macam apa yang kau buat dengan Tuhanmu?”

Kemarin Q bertemu
Seperti biasa Dia diam
Q tau Dia mendengar
Dan punya cara sendiri untuk menjawab

Sabtu, 10 September 2011

ngutip iklan lebaran

Ngutip Iklan…
“Coba lebaran setiap hari, ya? Pasti kita bisa terus makan enak…”
(Atau kurang lebih sepert itulah)
Betapa orang Indonesia sangat merindukan Lebaran, dari yang muda hingga yang tua, dari pengangguran hingga pejabat, bahkan mungkin baik muslim yang notabene yang punya hajat sampai non-muslim. Semua menantikan, semua merayakan. Saat itu dimanfaatkan baik untuk mudik, bersilaturahmi atau sekadar menikmati ketupat dan opor. Momen yang dinantikan itu biasanya hanya terjadi 2 hari dalam satu tahun. Tapi rupa-rupanya karena perbedaanlah yang membuat lebaran (Idul Fitri) di Indonesia tahun 1432 H ini jadi 3 hari (mengambil kesimpulan sepihak). Istimewa, bukan? Haha.
Ternyata kita memang tidak bisa lepas dari perbedaan. Dan sudah ga jaman lagi, Bung, terlalu membedakan aku Hijau dan kamu Biru. Atau jangan-jangan (tahun ini) kita hanya sedang diuji (lagi) tentang seberapa besar hati kita untuk menghargai dan menghormati perbedaan. Kebetulan ku percaya bahwa  perbedaan adalah jalan menuju perdamaian yang hakiki (Jare mas Yoyo).
Selain itu, mari kita ambil sisi positifnya saja. Dengan lebaran yang harinya nambah itu, kita bisa memanfaatkannya dengan saling memaafkan dalam waktu yang lebih banyak, mengingat sulitnya kita saling memaafkan selain hari lebaran (Jare mas yanis).  Tapi akan lebih indah kalau tidak hanya menunggu lebaran, menyempatkan bertemu keluarga setiap luang, makan ketupat dan opor setiap ada rejeki, dan tentunya saling memaafkan setiap saat.
Dan kenapa kita masih menunggu permohonan maaf untuk memaafkan?
Mari kita budayakan memaafkan tanpa perlu menunggu ucapan maaf.
Sepertinya dunia akan lebih indah.

Kamis, 14 Juli 2011

Melek Blog

yah...akhirnya buat blog jg...
(walopun sebenernya udah buat, berhubung lupa jadi buat lagi.hehe)