Bolak-balik melalui koridor jalan di salah satu rumah sakit, memaksa mata untuk membaca beberapa spanduk yang menghias di atasnya. Temanya pun tidak jauh hal-hal berbau RS, seperti hak pasien, kewajiban dokter, dan korupsi (lho!). Yang menarik perhatian adalah salah satu spanduk yang bertuliskan "Dengan edukasi pasien mendapatkan informasi dalam mengambil keputusan perawatannya". Dalam persepsi ku, betapa mulianya rumah sakit ini mengingatkan pentingnya pendidikan berkaitan dengan kesehatan. Secara kasar kesimpulannya adalah kalau ada orang-orang dengan latar belakang edukasi yang kurang maka bisa jadi tidak tepat dalam mengambil keputusan untuk perawatan mereka. Misalnya perawatan jadi tambah lama padahal tidak perlu berlama-lama, otomatis duit jadi nambah, (satu senyum lebar dari pihak yang diuntungkan). Selain itu bisa juga melakukan perawatan yang tidak perlu, misalnya seharusnya belum perlu operasi tapi akhirnya diputuskan untuk segera dioperasi,padahal selain memakan biaya yang lebih (tambah lagi senyum lebar) operasi adalah bener-bener jalan terakhir (*menurutku sih) karena akibatnya banyak, selain belum tentu penyakit bener-bener ilang malah bisa jadi tambah parah kalo operasinya salah, belum lagi kalo operasinya itu pengangkatan organ, resikonya bertambah pada terancamnya masa depan orang yang dioperasi bro...
"HAHA... SALAH SIAPA JADI ORANG GOBLOK DAN MAU DIGOBLOKIN" kata orang pinter.
Jari tengah buat yang bilang gitu. (*nulis dhewe emosi dhewe)
Plis... jangan takuti kami yang goblok ini dengan perawatan yang mahal dan beresiko sebelum banyak tes dan uji lab keluar...
Plis... jangan jadikan kami kelinci percobaan...
Plis... berikan kami info sejelas-jelasnya info, jangan setengah-setengah...
Plis... jangan kurangi obat kami hanya karena kami miskin....
Dan plis... jangan jadikan kami lahan bisnis...
Karena tidak semua mempunyai kemampuan dan kesempatan menjadi "orang pinter", maka kami yang "goblok" ini bukankah jadi tanggung jawab yang "pinter"? kenapa tak sedikit saja ilmumu kau tularkan? paling tidak berikan informasi agar kami yang "goblok" ini bisa ambil keputusan yang benar-benar tepat. Karena dalam tanggung jawab anda itu ada nyawa dan masa depan kami.
Jumat, 20 September 2013
Rabu, 11 September 2013
Indonesia itu...
Indonesia adalah saat orang berpapasan entah saling kenal atau tidak
mereka saling menyapa atau sekadar menebar senyum keramahan
Indonesia adalah saat sebuah pertanyaan "kepo" terlontar dijawab tanpa ragu
bahkan dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan "kepo" berikutnya
hingga terjadi percakapan singkat yang mungkin tidak penting namun tampak hangat
Indonesia adalah saat orang buta di pinggir jalan hendak menyeberang
lalu datang orang yang mampu melihat dengan memegang tangan si buta
kemudian dibantu menuju sisi jalan yang hendak dituju
Indonesia adalah saat para lelaki bergotong-royong membersihkan selokan
menata kembali tempat mereka tinggal
dan yang perempuan menyiapkan perjamuan makan sederhana
kemudian dilanjutkan dengan makan bersama, lesehan, piring dari daung pisang, dan muluk
Indonesia adalah saat ada yang suka cita, bangga, berdiri bulu kuduknya, bergetar hatinya
saat mendengarkan lagu kebangsaan
mengingat betapa lama mereka dijajah dan belum juga merdeka
Jika Indonesia itu masih ada, dimanakah bisa kutemukan?
mereka saling menyapa atau sekadar menebar senyum keramahan
Indonesia adalah saat sebuah pertanyaan "kepo" terlontar dijawab tanpa ragu
bahkan dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan "kepo" berikutnya
hingga terjadi percakapan singkat yang mungkin tidak penting namun tampak hangat
Indonesia adalah saat orang buta di pinggir jalan hendak menyeberang
lalu datang orang yang mampu melihat dengan memegang tangan si buta
kemudian dibantu menuju sisi jalan yang hendak dituju
Indonesia adalah saat para lelaki bergotong-royong membersihkan selokan
menata kembali tempat mereka tinggal
dan yang perempuan menyiapkan perjamuan makan sederhana
kemudian dilanjutkan dengan makan bersama, lesehan, piring dari daung pisang, dan muluk
Indonesia adalah saat ada yang suka cita, bangga, berdiri bulu kuduknya, bergetar hatinya
saat mendengarkan lagu kebangsaan
mengingat betapa lama mereka dijajah dan belum juga merdeka
Jika Indonesia itu masih ada, dimanakah bisa kutemukan?
Rabu, 04 September 2013
Analogi #2 : Sajak Pendaki Gunung
Saat hendak naik gunung
Aku bawa bekal pengganjal lambung
Ada mi instan dan jajanan kampung
Tak lupa perlengkapan layaknya pendaki ulung
Tak lupa perlengkapan layaknya pendaki ulung
Saat tiba di lerengnya
Aku melihat kota penuh pesona
Ada yang tampak gelap tertutup mega
Tapi ada juga yang cerah terkena surya
Lalu sampailah aku di puncak
Usahaku naik dibayar layak
Padang awan, langit, dan surya jadi pemangangan yang mutlak
Ah masa bodoh pada kota yang sudah tak lagi tampak
Dan aku pun kembali ke tempatku
Indahnya di sana sudah jadi kepuasanku
Redup atau cerah kini hanya terlihat di mana aku terpaku
Inilah kenyataan, yang tak suka cukup dengan tertawa pilu
Padang awan, langit, dan surya jadi pemangangan yang mutlak
Ah masa bodoh pada kota yang sudah tak lagi tampak
Dan aku pun kembali ke tempatku
Indahnya di sana sudah jadi kepuasanku
Redup atau cerah kini hanya terlihat di mana aku terpaku
Inilah kenyataan, yang tak suka cukup dengan tertawa pilu
Langganan:
Postingan (Atom)