Rabu, 04 September 2013

Analogi #2 : Sajak Pendaki Gunung

Saat hendak naik gunung
Aku bawa bekal pengganjal lambung
Ada mi instan dan jajanan kampung
Tak lupa perlengkapan layaknya pendaki ulung 

Saat tiba di lerengnya
Aku melihat kota penuh pesona
Ada yang tampak gelap tertutup mega
Tapi ada juga yang cerah terkena surya

Lalu sampailah aku di puncak
Usahaku naik dibayar layak
Padang awan, langit, dan surya jadi pemangangan yang mutlak
Ah masa bodoh pada kota yang sudah tak lagi tampak

Dan aku pun kembali ke tempatku
Indahnya di sana sudah jadi kepuasanku
Redup atau cerah kini hanya terlihat di mana aku terpaku
Inilah kenyataan, yang tak suka cukup dengan tertawa pilu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar