Selasa, 22 November 2011

Perokok dan Pasangannya

Kali ini tentang Perokok dan Pasangannya (Rokok tentunya).
Saya tidak pernah menyangka akan menjadi perokok aktif seperti saat ini. Karena dulu selalu mengkritik ayahanda yang notabene perokok juga. Karena boroslah, ga baik untuk kesehatan lah, dll. Tapi apa yang terjadi sekarang???hmmm....
Ketagihan???mungkin. Tapi bagiku zat adiktif dalam rokok hanya bagian kecil yang mempengaruhi untuk menjadi seorang perokok (aktif tentunya). Yang lain adalah karena manfaat yang bisa didapat dari merokok itu. Hahaha...Manfaat???Guyon mesti mas’e. Hoho, jangan salah mas bro/mba bro (Lho), makanya mari kita kaji berama tentang filosofi Perokok dan Pasangannya.
Tapi sebelumnya yang menjadi catatan penting adalah ini bukan sekadar justifikasi atas apa yang sudah saya perbuat saja, karena ketika menjadi perokok (pasif), saya sudah mengagumi kehebatan para perokok (aktif). Penting juga untuk pengetahuan (baca:pengakuan dosa) bahwa perlakuan “cerewet” kepada ayahanda sebelumnya itu hanya perlakuan khusus, ya paling ga mengharapkan uang sekolah bisa nambah kalau ayah berhenti merokok. Karena analoginya uang untuk rokok bisa jadi uang saku. Haha. Mohon maklum, jaman masih sekolah.

Kenapa bisa jadi perokok?

 
(Tidak masalah jika) Anggap saja ini adalah sebuah keinginan terpendam atas momen yang tepat. Karena pada prinsip awalnya dan sering menjadi pesan orang tua adalah “Nek wes bisa nggolek duit, nembe entuk ngrokok” (Kalau sudah bisa cari uang sendiri, baru boleh merokok). Dan (tidak masalah jika) anggap saja saya terlalu samin menanggapi pernyataan itu. Sehingga ketika sudah bisa mencari beberapa rupiah sendiri, (eng ing eng...*backsound) jadilah Perokok (aktif). Meskipun sebenarnya uang yang didapat tidak sebanding dengan pengeluaran setelah jadi perokok (sehingga akhirnya masih mengandalkan bantuan dari sana sini, termasuk orang tua). Hoho. Jadi teringat saat pertama kali Ibunda tercinta mengetahui anaknya sudah jadi perokok (aktif), betapa kecewanya beliau, padahal katanya saya sudah dibangga-banggakan dan dikoar-koarkan sebagai anak yang tidak merokok. (*ngapunten nggih bu...he). Sehingga harus menerima satu kondisi dimana harus merokok di dalam rumah saja saat di kampung halaman, dalam arti ga boleh jalan-jalan sambil nentengin rokok. (mungkin dalam rangka menutup rasa malu Ibu, atau bisa jadi karena takut anaknya dicap jelek) ooouwh..so sweet... (*matur nuwun, ibu).
(Kembali lagi) Selain itu semua orang pasti sudah mengetahui. Betapa banyak orang yang hidupnya bergantung dari penjualan rokok di Indonesia. Dengan beberapa peraturan tentang Rokok dan Merokok tentunya semakin mengancam masa depan beberapa orang tersebut. Jika pemerintah memang sudah konsekuen dengan peraturan tersebut serta sudah siap dengan segala antisipasinya, ((andai saya pemerintahnya)mudahnya) pasti sudah menutup pabrik rokok, dan memberikan alternatif usaha lain atau peluang pekerjaan lain bagi yang bergaul di bidang ke-Rokokan. (Pekokan). Sayangnya kenyataanya tidak, karena memang tidak semudah itu. Jadi kesimpulannya adalah saya merokok demi tidak bertambahnya pengangguran di negaraku tercinta. Sungguh tujuan yang sangat mulia bukan???haha (*Cuih). 

Merokok itu menyehatkan. (*kok bisa???)
Sekarang mungkin semua orang tahu, bahwa rokok itu tidak baik untuk kesehatan. Karena dalam setiap iklan dan kemasan rokok pasti tertera peringatannya. Bagi yang belum mengetahuinya karena biasanya terlalu cepat saat di iklan TV, berbunyi seperti ini “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”. Dan sampai saat ini pun saya masih bertanya-tanya tentang iklan rokok adalah ;
  1. Iklan itu kan sifatnya persuasif, terus kenapa ada peringatan bahaya produknya???
  2. Peringatannya itu penting ga tho? Atau ngaruh ga tho? Ditulis dengan hurus kapital tapi kok cepet buanget tayange???
*Hmmm... mungkin perlu ada film “Alangkah Lucunya (Iklan Rokok)”.
Tapi tahukan anda bahwa ada beberapa semboyan para perokok (aktif)? Diantaranya adalah ; “Merokok dapat menghilangkan stress”, “Merokok bisa memunculkan inspirasi yang luar biasa”,”merokok dapat terhindar dari gigitan nyamuk Aides Aegypty (dengan asapnya)”, “Merokok dapat terhidar dari maling (karena begadang bertemankan rokok)”, “Nek lagi watuk ngene, obate rokok kretek owg”, dan mungkin yang paling ekstrim “Ngrokok ga ngrokok tetap mati”. Haha. Mungkin memang terkesan mencari alasan Pekok-pekokan supaya tidak disalahkan karena merokok. Tapi memang itulah yang diajarkan pada saat berada di Akademi Perokok Indonesia (API). (ngasal). Dengan semboyan seperti itulah perokok (aktif) masih tetap hidup, karena kekuatan sugesti sangatlah luar biasa (Jika anda tidak percaya cobalah tanyakan pada ahli otak / neuron tentang kekuatan sugesti, atau pada orang-orang yang biasa ngisi acara Brain Activation atau semacamnya). Maka jika Perokok (aktif) beranggapan dengan rokok bisa dapat inspirasi atau yang lainnya, niscaya hal tersebut sangat mungkin benar-benar terjadi. Sangat berbeda dengan orang yang tidak merokok yang beranggapan asap rokok merupakan pengganggu dan pembawa penyakit maka niscaya hal itu akan terjadi. Karena pada kenyataanya (dilingkungan sekitar) banyak yang berpenyakitan orang-orang  yang tidak merokok dibandingkan orang yang merokok. Tapi jika ada pernyataan “Perokok Pasif lebih berbahaya daripada Perokok Aktif” maka saya adalah orang yang pertama (semoga) yang menentangnya (dengan dasar ilmu yang cethek tentunya) karena pada dasarnya Perokok (Aktif) akan menjadi Perokok Pasif dan Juga Perokok Aktif saat menghadiri acara merokok bersama. Masalah faktor lain seperti gen, anti body yang berbeda, dll, saya rasa tidak perlu dibahas disini. Hoho. Oia sebagai pengetahuan tambahan, berdasarkan penelitian (kabar burung), rokok caos luarlah (amerika, dll) yang berpeluangan besar mengakibatkan kanker, sedangkan rokok Indonesia yang menggunakan rempah-rempah terpilih mengakibatkan ketagihan.
Tips sebelum merokok : Katakanlah “sehat”, maka sehatlah. (At Tembakau ; ayat 1). Hahay.

Sosialisasi Lewat Rokok
Saya jadi teringat benar saat mencoba “meracuni” teman KKN di desa gebanganom. Begini ceritanya...
Saya : “Ebed (Nama Sebernarnya), coba deh lihat, bapak-bapak disini itu rata-rata merokok semua lho... jadi kalo emang mau gampang akrab dengan warga sini yang kudu bisa ngrokok juga...”
Ebed : “Masak sih?”
Saya : “iyalah... apalagi sudah ada iklannya.. Rokok itu LAKI (gaya salah satu iklan minuman energi)”
Ebed : “Oke, aku tak belajar ngrokok (langsung mengambil sebatang rokok yang di meja dan menghisapnya)........uhuk..uhuk...”
Saya : (Ngakak ngguling-ngguling melihat gaya merokok Ebed + batuk-batuknya)
Gitu...Puas banget deh rasanya. Hoho.
Kembali ke topik. Salah satu alasan yang paling besar menjadi perokok (aktif) adalah betapa rokok bisa menjadi alat bersosialisasi yang sangat efektif (berdasarkan pengalaman dan memang benar adanya) dan betapa mengagumkannya prinsip-prinsip sosial yang dipegang para perokok (aktif) itu. Misalnya ketika ada Perokok (Aktif), maka tidak akan segan segan untuk menawarkanrokok miliknya  kepada sesamanya. Karena sepertinya sesama perokok sudah menganggap saudara senasib sepenanggungan,  bukan karena berbagi (penyakit) tidak pernah rugi. Jadi jika ada diantara pembaca ada yang mengetahui perokok yang “pelit” mohon dilaporkan kepihak yang berwajib, karena sudah mencemarkan nama baik Asosiasi Bersaudara Umat Perokok (ABU Perokok). Dan yang paling menyakitkan adalah berusaha mematahkan teori saya tentang perokok. Haha.  Singkat kata perokok tidak akan memikirkan dirinya sendiri saat merokok, karena jika tidak, akan melanggar Piagam Perokok Asli (PIPA) yang berbunyi “MEROKOK SENDIRI DAPAT MENGAKIBATKAN RUSAKNYA PERSAHABATAN DAN PERSAUDARAAN”, sehingga bisa dikatakan dia adalah Perokok Abal-abal. Berhati-hatilah dengan orang-orang seperti itu. Karena baik bagi Perokok (aktif) maupun Perokok (Pasif) golongan tersebut adalah sumber penyakit yang sebenarnya. Oia satu lagi, Anda bagaikan malaikat penyelamat yang mengantarkan ke oase saat kehausan di tengah gurun, saat bisa memberikan api kepada perokok tanpa bara (ciri-cirinya pegang rokok ga nyala, trus bolak-balik ga karuan, atau tangannya ke atas nunggu petir turun dari langit). hehe. Maka tentu itu adalah hutang budi yang begitu besar bagi kami kaum perokok dan pasti langsung kami jadikan saudara. Haha.
Dan setelah selesai tulisan ini saya ingin meminta maaf kepada MUI yang telah memfatwakan haram atas rokok. Karena kebenaran hanya milik Tuhan, dan jika yang saya lakukan saya yakini benar, maka saya tidak akan ragu-ragu (dasarnya dari (kayaknya sih) di Al-Baqarah:147). Dengan berbagai pendapat yang saya yakini diatas maka saya menyatakan akan tetap merokok (sampai benar-benar mendapat hidayah dari Tuhan, semoga saja bukan penyakit. Amin). hohoho.
Hidup Rokok!

2 komentar:

  1. Wah akeh sing ndelok tp gak no sing ngomen ik... ckckck
    mesakke...

    BalasHapus
  2. wkwkwkwk....
    hem, ada yang pernah bilang 25% masyarakat indonesia meninggal karena merokok. berarti 75% sisanya meninggal karena tidak merokok(lho?)hoho.
    well, sy ikut mengamini "maka saya menyatakan akan tetap merokok (sampai benar-benar mendapat hidayah dari Tuhan, semoga saja bukan penyakit. Amin)" Amin.

    BalasHapus